Kepala SMK Negeri 2 Tondano Maria Lapian
Manado, ZonaOke
Dalam kegiatan Pelatihan Pembelajaran Mendalam, para Kepala SMK se-Sulawesi Utara memaparkan praktik baik dalam menghadapi pendidik yang mengalami kesulitan mengajar.
Dalam pelatihan tersebutsejulh kepsek curhat dalam kegiatan tersebut saat sesi refleksi,Rabu (16/9/2026) di SMK Negeri 6 Manado.
Dalam penyampaian Kepala Sekolah yang memberikan refleksi adalah Kepala SMK Negeri 2 Tondano Maria Lapian, S.Pd., M.Pd dan Kepala SMK Negeri 6 Manado Altje Salele,S.Pd., M.Pd, Kepala SMK Negeri 2 Manado Tineke Lesar, SPd MPd, Kepala SMK PP Negeri Kalasey,Hernie Onibala,SP MSi.
Mereka menjawab 3 pertanyaan Refleksi Awal:
1. Apa yang selama ini telah kita lakukan bila melihat ada pendidik yang mengalami kesulitan dalam mengajar dan terlihat ingin menyerah?
2. Apakah tindakan yang dilakukan bisa memperbaiki keadaan atau sebaliknya malah memperburuk keadaan?
3. Apakah ada pihak lain yang kita libatkan dalam upaya mencari solusi untuk mengatasi masalah ini?
Menurut Kepala SMKN 2 Tondano, Maria Lapian, S.Pd.,M.Pd “Ketika mengalami kesulitan dalam mengajar dan terlihat ingin menyerah, sebagai leader di sekolah kita harus memberikan teladan dulu. Menjadi kepala sekolah itu sudah melewati berbagai proses, teladan yang kita berikan harus berdampak pada semua guru, pegawai bahkan murid.”
Menurutnya, kepala sekolah tidak bisa bekerja sendiri apalagi dengan jumlah murid yang besar. Harus ada garis komando dan kerja sama tim.
“Dari yang disampaikan teman-teman, kita fungsikan staf sesuai bidangnya masing-masing. Kita belajar memberikan kepercayaan kepada mereka. Kalau sudah kita tetapkan menjadi Wakil Kepala Sekolah atau Ketua Program Keahlian, berarti mereka layak menjadi leader di bidangnya dan harus menjadi teladan,” ujarnya.
Maria menambahkan, solusi agar guru tidak mudah menyerah adalah mengajar dari hati.
“Kita gali potensi mereka. Kita ingatkan bahwa ketika kita mengajar dengan hati, kesulitan dalam mengajar itu tidak akan terjadi. Enam rumus sebagai pendidik akan muncul. Saya sendiri masih sering masuk kelas untuk memberikan contoh bagaimana mengajar. Saya akan dialog langsung dengan anak-anak, apa kesulitan mereka, kenapa malas. Sebenarnya anak-anak itu suka belajar,” tegasnya.
Ia juga rutin melakukan evaluasi setiap hari Senin dan melakukan coaching bersama guru yang memerlukan catatan khusus.
Sementara itu,Kepala SMKN 6 Manado, Altje Salele, menekankan pada pentingnya pemetaan dan analisis kekuatan di sekolah.
“Sekolah lebih dulu mencari kelemahan, kekuatan, peluang. Kita beri pijakan. Ketika kita sudah kumpulkan data, misalnya dari 100 guru ada 60% yang mau menyerah dan 40% yang mau bekerja, itu jadi refleksi awal kita sebagai kepala sekolah,” jelasnya.
Dari pemetaan tersebut, tindakan perbaikan dilakukan bukan dari kepala sekolah saja, tetapi melihat praktik baik dari guru yang sudah mampu dan tidak menyerah.
“Kita akan buat kelompok belajar. Apa yang menjadi masalah itu akan kita bahas bersama dalam suatu kesepakatan melalui rapat. Guru yang kuat akan berbagi dengan guru yang lemah. Itulah solusi yang kita bangun bersama,” tutup Altje.
Kegiatan Refleksi Awal ini menjadi bagian penting untuk memperkuat peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran yang tidak hanya mengelola administrasi, tetapi juga menjadi coach bagi guru-gurunya.
(er)











Leave a Reply