Manado,ZonaOke
Menyikapi viral ancaman di media sosial dan tawuran antar pelajar di sekitar lingkungan sekolah, SMA Negeri 7 Manado mengambil langkah tegas dan terukur..
Rapat yang berlangsung sejak pagi hari itu dihadiri Kepala Dinas DP3A Provinsi Sulut, SMK Negeri 2 Manado, SMAN 2 Manado, Dinas Dikda Sulut,Polresta Manado, Polsek Tikala, dan Densus 88, Rabu (30/9/2026) di SMA Negeri 7 Manado.
Pertemuan di hadiri Kepala SMAN 2 Manado, I Wayan Sumertha SPd MPd, Kepala SMKN 2 Manado, Tineke Lesar SPd MPd, dan Kepala SMAN 7 Manado, Dr Hanny Wiliam Rawung SS MHum.
Kepala SMA Negeri 7 Manado Dr Hanny Rawung,MHum menjelaskan langkah yang sudah dilakukan sekolah
Juga yang perlu saya sampaikan yaitu kolaborasi tadi sudah bertemu cukup banyak yang dibicarakan memastikan anak-anak tetap mendapatkan pendidikan yang layak dan baik.
“Kejadian tawuran ini tidak diinginkan, sekolah ingin menjaga agar anak-anak tetap fokus belajar.
Upaya Kolaborasi Cegah Tawuran, Sekolah berkoordinasi lintas instansi untuk menyelesaikan masalah dan membuat upaya kerja sama agar tindakan tawuran tidak lagi terjadi,”tuturnya kepada jurnalis.
Dan Jaminan Rasa Aman, Menanggapi isu ada orang tua yang ingin memindahkan anaknya karena merasa tidak aman.
Kepsek menegaskan akan berkoordinasi dengan orang tua dan meningkatkan pengamanan.
“Untuk memberikan rasa aman dan nyaman, kami bekerja sama dengan kepolisian. Jadi pulang sekolah itu tetap ada patroli, ada polisi yang berjaga dari Polres yang akan melakukan penjagaan patroli. Dan kami memang meminta juga orang tua kalau boleh tetap menjemput anak di sekolah,”katanya.
Larangan Bawa Motor, Himbauan tidak membawa sepeda motor bersifat sementara sampai batas waktu yang akan ditentukan.
Tujuannya meminimalkan risiko siswa terlibat dalam kegiatan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Orang tua diminta mengantar atau mengarahkan anak menggunakan transportasi yang lebih aman.
Rawung berharap doa dan dukungan semua pihak agar kejadian ini tidak berlarut dan tidak terulang, karena anak-anak adalah masa depan bangsa.
“Buktinya sekarang sudah seperti biasa dan mereka bisa datang ke sekolah dengan baik, bisa belajar dengan baik,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan SMA di Dinas Pendidikan Daerah (Dikda) Provinsi Sulawesi Utara, Chemry Rojen Lebe, S.Pd., M.Pd mengatakan Dikda Sulut Gerak Cepat merespons informasi yang beredar terkait kondisi keamanan di sekolah, termasuk adanya ancaman yang dikaitkan dengan siswa.
Pihaknya langsung menggelar pertemuan koordinasi dengan melibatkan tim Densus 88 dan pihak terkait lainnya.
“Itu bagian dari gerak cepat merespons akan informasi yang beredar tentang kondisi ada ancaman-ancaman. Di situ kami melibatkan ada tim Densus,” ujarnya.
Dari hasil pertemuan tersebut, disepakati untuk terus menjalin komunikasi, koordinasi, dan memberikan laporan-laporan berkaitan dengan perkembangan yang ada di sekolah-sekolah.
Saat ditanya soal peran kepolisian, apakah menunggu laporan atau jemput bola, Ia menegaskan koordinasi dilakukan bersama-sama, tidak hanya menunggu.
Menanggapi adanya siswa yang ditengarai bermasalah, Dikda Sulut akan melihat dan mendalami terlebih dahulu bersama Aparat Penegak Hukum (APH).
Terkait keterlibatan Densus 88, Ia menjelaskan hal itu dilakukan karena informasi yang beredar sudah berkaitan dengan media sosial yang banyak menyebarkan informasi-informasi yang meresahkan.
“Berarti ada indikasi oknum-oknum anak-anak yang dalam tanda kutip ini terpapar paham radikalisme. Nah itu sementara yang coba kita masuki bersama-sama dengan pihak-pihak terkait,” jelasnya.
Untuk isu yang mengaitkan antara SMK 2 dan SMK 7, Dikda Sulut masih terus menggali informasi secara kolaborasi dengan melibatkan pihak-pihak terkait untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.
Dikda Sulut menegaskan akan terus melakukan pengawasan dan pembinaan di satuan pendidikan SMA, SMK dan SLB se-Sulut agar lingkungan sekolah tetap aman dan kondusif.
(er)












Leave a Reply