Manado, ZonaOke
Guru dan Tenaga Kependidikan antusias mengikuti Pelatihan Smart Urban Farming SEAMEO BIOTROP di SMA Negeri 7 Manado, Kamis (2/7/2026). Fokus pelatihan kali ini: praktik budidaya dan penyuntikan hormon ikan lele serta aqua ponik.
Slamet Widodo, menekankan pentingnya adaptasi. “Semua makhluk hidup butuh adaptasi. Sama seperti manusia dari pantai ke gunung bisa lemas, ikan juga. Makanya saat tebar benih, plastik berisi ikan direndam dulu di kolam agar suhu air sama. Kalau langsung dilepas, ikan stres,” jelasnya.
Ia juga membeberkan rangkaian SOP Budidaya Lele di Sekolah Berdasarkan SNI 2014.1. Pemijahan / Reproduksi.
Kriteria induk betina: umur 12-15 bulan, panjang 38-40 cm, bobot 400-500 gram. 1 kg induk betina bisa menghasilkan 50.000-100.000 butir telur dengan diameter 1,4-1,5 mm. Telur sekecil ini makanya butuh pakan awal yang halus.
2. Perawatan Larva & Pakan, Umur 3-5 hari: Pakan emulsi kuning telur.
Umur 5-10 hari: Cacing tubifek/sutra. Alternatif susu bubuk Rp 4-5 ribu/liter, daphnia, atau jentik nyamuk. Umur 10 hari ke atas: Pakan buatan/crumble Rp 10-15 ribu/kg
Catatan: Dosis pakan cukup 0,3% dari bobot. Kebanyakan pakan = amonia naik = kualitas air turun.
3. Pakan & Sortir*
Sortir dilakukan untuk cegah kanibalisme karena ukuran tidak sama. Jadwalnya: Hari ke-8 sortir pertama, hari ke-15 sortir kedua, selanjutnya tiap 2 minggu sekali.
4. Pendederan P I s.d P IV.
Tahapan dari larva ke benih siap tebar:
P I: 1-3 cm = 15-20 hari | P II: 3-5 cm = 15-17 hari | P III: 5-7 cm = 15-17 hari | P IV: 7-9 cm = 15-17 hari.
Total ±60-70 hari dari netas sampai siap tebar ke kolam pembesaran.
Perawatan Air
Jangan ganti air 100% sekaligus. Cukup 20-50% secara bertahap. Air lama fungsinya mengencerkan amonia dan penyakit. Ganti total = ikan kaget seperti “pindah rumah”.
Peserta dibagi dalam kelompok praktik lapangan. Pelatihan ini diharapkan jadi solusi ketahanan pangan di sekolah sekaligus membuka peluang wirausaha siswa.Menariknya dalam penyntikan hormon ikan lele betina dan jantan langsung di prektekan oleh setiap guru yang di bantu oleh SEAMEO BIOTROP.
Usai kegiatan tersebut para peserta menuju ke SMAN 8 Manado untuk melihat langsung aquaponik yang di sambut oleh Kepala SMAN 8 Manado Dra Mediatrix Ngatung,MPd.
Sementara Itu salah satu guru mengatan pelatihan tersebut menginspiratif dan aplikatif.
“Lewat pelatihan ini membuka wawasan baru bagi saya. Ternyata bertani tidak harus punya lahan luas. Halaman sekolah atau ruang kelas pun bisa jadi “kebun cerdas”.
Sehingga Sekolah dapat mewujudkan ketahanan pangan mandiri, mempercantik lingkungan, dan menciptakan sumber pembiayaan tambahan dari hasil panen sayur”katanya guru SMAN 10 Manad Mega Polakitan, sembari berharap ilmu yang kami dapatkan bisa ditindaklanjuti dengan pendampingan, bantuan sarana prasarana awal seperti modul hidroponik, serta aquaponik dan adanya komunitas belajar guru Smart Urban Farming Dengan begitu program ini tidak berhenti di pelatihan, tapi benar-benar hidup di sekolah.
(er)


