Baghdad, ZOnaOke.Id – Krisis energi melanda Irak setelah Iran menghentikan seluruh aliran gas yang selama ini digunakan untuk pembangkit listrik. Penghentian pasokan ini dipicu oleh serangan rudal yang menargetkan fasilitas ladang gas raksasa South Pars di Iran, yang menyebabkan Teheran memprioritaskan pasokan gas untuk kebutuhan dalam negeri .
Juru bicara Kementerian Kelistrikan Irak, Ahmed Musa, mengonfirmasi bahwa dampaknya langsung terasa pada sistem kelistrikan nasional. Pasokan yang sebelumnya mencapai 50 juta meter kubik per hari—sekitar sepertiga dari kebutuhan gas Irak—kini terhenti total, mengakibatkan hilangnya kapasitas pembangkit hingga 3.100 megawatt (MW) .
“Akibat eskalasi kawasan, pasokan gas Iran ke Irak sepenuhnya terputus satu jam yang lalu sehingga mengakibatkan hilangnya sekitar 3.100 megawatt listrik. Ini akan mempengaruhi sistem pasokan listrik secara serius,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa sebelumnya Irak telah mempersiapkan diri menghadapi puncak permintaan musim panas .
Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan di kawasan. Iranian media melaporkan bahwa beberapa fasilitas di ladang gas South Pars di kawasan energi Asaluyeh, di pantai Teluk selatan Iran, menjadi target serangan rudal pada hari sebelumnya . South Pars adalah ladang gas alam terbesar di dunia, yang lokasinya berbagi dengan Qatar (di sisi Qatar dikenal sebagai North Field) .
Serangan tersebut memicu kekhawatiran global bahwa infrastruktur energi Iran akan terus menjadi target serangan AS atau Israel di tengah perang yang kini memasuki minggu ketiga . Akibatnya, harga minyak mentah langsung melonjak lebih dari 6% hingga mendekati USD 110 per barel .
Pemerintah Irak kini berupaya mencari solusi cepat dengan berkoordinasi bersama kementerian perminyakan untuk menutup kekurangan pasokan menggunakan bahan bakar alternatif serta cadangan gas dalam negeri . Namun, situasi kawasan sendiri memang sedang memanas sejak serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah wilayah di Iran pada akhir Februari lalu.
Ketegangan ini juga berdampak pada jalur energi global, termasuk terganggunya aktivitas di Selat Hormuz yang selama ini jadi jalur utama distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk. Iran bahkan mengeluarkan peringatan evakuasi untuk sejumlah fasilitas energi di Arab Saudi, UEA, dan Qatar, serta mengancam akan menargetkan instalasi energi negara-negara Teluk dalam beberapa jam ke depan sebagai respons atas serangan tersebut .
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut serangan itu sebagai eskalasi “berbahaya dan tidak bertanggung jawab” yang membahayakan keamanan energi global . Sementara itu, Irak yang sangat bergantung pada impor gas Iran untuk mengoperasikan pembangkit listriknya—terutama di wilayah selatan—kini berada dalam posisi paling rentan akibat gangguan pasokan ini . Ketergantungan ini membuat negara itu rentan terhadap gangguan pasokan, dan dengan hilangnya 3.100 MW, ancaman defisit listrik yang lebih besar di musim panas mendatang kini membayangi .
(*ANT/ *Bernama/ *Xinhua/ *Reuters/ *Deccan Herald)
