Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Iklan―

spot_img
HomeNewsEconomyDolar Tembus Rp17.000, Menkeu Purbaya: "Itu Akibat Narasi Resesi yang Menyesatkan!"

Dolar Tembus Rp17.000, Menkeu Purbaya: “Itu Akibat Narasi Resesi yang Menyesatkan!”

Jakarta,ZonaOke

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin nyata. Pada perdagangan Senin siang (9/3/2026), mata uang Garuda terpantau melemah hingga menyentuh level psikologis baru. Data Refinitiv mencatat rupiah dibuka terdepresiasi 0,47 persen ke posisi Rp16.980 per dolar AS, bahkan sempat meluncur ke level Rp16.953 pada pukul 14.14 WIB.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya buka suara menanggapi gejolak pasar uang ini.

Menariknya, Purbaya tidak menyalahkan faktor eksternal semata. Ia justru menunjuk hidung sejumlah ekonom domestik yang dinilainya menebar ketakutan berlebihan di tengah masyarakat.

Menurutnya, pelemahan rupiah hingga ke level Rp17.000 dipicu oleh sentimen negatif yang diciptakan oleh narasi-narasi resesi yang tidak berdasar.

“Rupiah menyentuh Rp17.000 karena sebagian ekonom bilang katanya kita lagi resesi, disamakan dengan tahun 97-98 lagi. Katanya daya beli sudah hancur. Begitulah narasi yang berkembang,” cetus Purbaya dengan nada lugas, Senin (9/3/2026).

Mantan Ketua Dewan Komisioner LPS ini membantah keras tudingan tersebut.

Ia menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi nasional saat ini justru berada pada jalur ekspansi, bukan kontraksi. Pemerintah, lanjut Purbaya, sedang bekerja ‘mati-matian’ untuk menjaga daya beli masyarakat agar tetap stabil di tengah ketidakpastian global.

“Jangankan krisis, resesi saja belum. Melambat saja belum. Kita ini masih ekspansi, masih akselerasi,” tegas sang Bendahara Negara.

Pesan untuk Investor: Fondasi Kita Kokoh!
Kepada para pelaku pasar dan investor saham, Purbaya meminta agar tidak terjebak dalam kepanikan (panic selling). Ia menjamin bahwa pemerintah telah memiliki “jam terbang” yang mumpuni dalam memitigasi berbagai krisis besar, mulai dari badai 1998, krisis finansial global 2008, hingga pandemi COVID-19 pada 2020.

Purbaya memberikan bukti historis pada tahun 2008, di mana ekonomi Indonesia tetap mampu tumbuh positif saat ekonomi global bertumbangan. Pengalaman pahit di masa lalu telah menjadi pelajaran berharga bagi tim ekonomi pemerintah dalam menyusun sabuk pengaman ekonomi yang lebih kuat.

“Jadi teman-teman tidak perlu takut. Kita punya pengalaman memitigasi. Yang jelas, dengan pengalaman 97-98, 2008, dan 2020, kita terbukti bisa mengatasi pertumbuhan ekonominya agar tetap terjaga,” tambahnya.

Menjaga Psikologi Pasar
Pernyataan Purbaya di pusat grosir Tanah Abang ini seolah ingin mengirimkan pesan bahwa ekonomi riil masih bergerak. Pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor psikologis dan persepsi yang salah di tingkat pengamat.

Meski demikian, pasar tetap menunggu langkah konkret dari Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia untuk melakukan intervensi guna menstabilkan nilai tukar. Level Rp17.000 per dolar AS tentu bukan angka yang bisa dianggap remeh, mengingat dampaknya terhadap biaya impor dan inflasi di masa mendatang.

Kini, tantangan Purbaya adalah membuktikan bahwa optimisme yang ia gaungkan sejalan dengan angka-angka pertumbuhan di akhir kuartal nanti. Publik tentu berharap, ‘akselerasi’ yang dijanjikan sang Menkeu bukan sekadar jargon di tengah tekanan dolar yang kian perkasa.

(inc)