Jakarta, ZonaOke.Id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin pagi (13/4/2026) dibuka melemah 17 poin atau 0,10 persen menjadi Rp17.121 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.104 per dolar AS.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen ketidakpastian global menjelang hasil negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan. “Pasar masih wait and see meskipun ada harapan gencatan senjata. Dollar AS cenderung menguat sebagai aset safe haven sementara investor mencermati perkembangan negosiasi,” ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Selain faktor geopolitik, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS turut menekan rupiah. Yield Treasury tenor 10 tahun naik ke level 4,35 persen, tertinggi dalam sepekan terakhir, setelah data inflasi AS Maret 2026 menunjukkan kenaikan 0,9 persen (month-to-month), di atas ekspektasi pasar.
“Data inflasi AS yang masih tinggi membuat pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Ini berdampak pada penguatan dolar AS dan pelemahan mata uang emerging markets, termasuk rupiah,” tambah Lukman.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga tercatat melemah ke level Rp17.115 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.098 per dolar AS.
Sementara itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, memperkirakan IHSG berpotensi tertekan pada perdagangan hari ini seiring pelemahan rupiah. “Investor akan cenderung wait and see menjelang rilis data neraca perdagangan Indonesia pekan ini. Namun, saham sektor komoditas seperti batu bara dan CPO masih menarik perhatian seiring kenaikan harga komoditas global,” ujar Liza.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak mixed (beragam) dengan kecenderungan melemah terbatas di kisaran Rp17.090 hingga Rp17.160 per dolar AS hari ini, tergantung pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
(*ANT/ *Bloomberg)


