Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Iklan―

spot_img
HomeNewsEconomyMinyak Dunia Tembus US$113 per Barel, Menkeu Purbaya: "Jangan Buru-buru Simpulkan APBN...

Minyak Dunia Tembus US$113 per Barel, Menkeu Purbaya: “Jangan Buru-buru Simpulkan APBN Jebol!”

Jakarta,ZonaOke
Lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini bertengger di level US$113,68 per barel mulai memicu kekhawatiran publik akan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi domestik. Namun, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meminta semua pihak untuk tetap berkepala dingin.

Menurutnya, pergerakan harga harian yang liar tersebut belum memberikan gangguan berarti terhadap aktivitas ekonomi nasional.

Pernyataan menenangkan ini disampaikan Purbaya seusai melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2026).

Di tengah keriuhan pusat grosir terbesar itu, sang Bendahara Negara menegaskan bahwa pemerintah terus memantau situasi dengan cermat tanpa perlu terburu-buru mengambil kesimpulan ekstrem.

Fiskal Masih Aman: Efek Bulanan vs Harga Harian
Purbaya mengingatkan para pengamat dan pelaku pasar agar tidak terjebak dalam kepanikan akibat fluktuasi harga harian. Baginya, angka US$113 yang terlihat di layar bursa komoditas saat ini tidak serta-merta langsung menghantam postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Saya belum melihat gangguan dari aktivitas ekonomi dalam negeri gara-gara harga yang naik tinggi. Tapi kan ini baru sebentar. Jadi, teman-teman yang lain, jangan cepat-cepat memastikan atau menyimpulkan harga akan berada di level US$100 terus,” ujar Purbaya dengan gaya bicaranya yang lugas.

Lebih lanjut, ia menepis spekulasi liar yang menyebut harga minyak akan terbang ke level US$150 per barel dan melumpuhkan kekuatan anggaran pemerintah. Purbaya menekankan bahwa kondisi fiskal memiliki mekanisme pertahanan yang diukur dalam rentang waktu bulanan, bukan sekadar reaksi spontan terhadap harga penutupan pasar harian.

Hasil Stress Test Kemenkeu: Angka Aman US$92
Untuk menjaga akuntabilitas publik, Purbaya membeberkan bahwa Kementerian Keuangan telah melakukan uji risiko atau stress test secara berkala. Fokus utama dalam pengujian tersebut adalah rata-rata harga minyak mentah dunia dalam setahun, bukan fluktuasi jangka pendek yang dipicu oleh tensi geopolitik di Timur Tengah.

Berdasarkan hitungan stress test tersebut, Purbaya menjelaskan batas psikologis bagi defisit APBN. Jika rata-rata harga minyak dunia sepanjang tahun mencapai level US$92 per barel, maka defisit anggaran diprediksi akan bergerak ke level 3,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka ini sedikit melampaui batas aman undang-undang yang dipatok pada level 3 persen.


“Posisi saat ini masih di bawah (rata-rata tahunan) itu. Jadi, masih tenang-tenang dulu. Yang jelas, kita monitor dari waktu ke waktu dan saya tidak akan terlambat mengambil keputusan kalau memang diperlukan,” tegas mantan Ketua Dewan Komisioner LPS tersebut.

Optimisme di Tengah Ketidakpastian Global
Sikap optimis yang ditunjukkan Purbaya di Pasar Tanah Abang seolah ingin mengirimkan pesan kuat kepada pasar: pemerintah memegang kendali.

Meski harga minyak dunia sedang membara akibat konflik AS-Iran yang kian meruncing, instrumen kebijakan fiskal Indonesia dinilai masih memiliki ruang napas yang cukup.

Purbaya berkomitmen untuk melakukan asesmen berkelanjutan agar setiap kebijakan, baik itu penyesuaian subsidi maupun insentif ekonomi lainnya, diambil berdasarkan data yang matang, bukan karena tekanan opini publik yang panik. Ketenangan Menkeu di tengah hiruk-pikuk Tanah Abang hari ini menjadi sinyal bahwa stabilitas ekonomi makro masih menjadi prioritas utama yang dijaga ketat oleh pemerintah.

(inc)