Jakarta, Zonaoke.id – Bank Indonesia (BI) menilai surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 sebesar 0,95 miliar dolar AS menjadi modal positif dalam menopang ketahanan eksternal perekonomian nasional. Capaian ini melanjutkan tren surplus selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 .
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Senin (2/3/2026), surplus pada Januari 2026 tercatat lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 2,51 miliar dolar AS, namun tetap menunjukkan kinerja perdagangan yang resilien di tengah dinamika global .
“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas lain guna makin memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Lebih lanjut, Ramdan menjelaskan bahwa surplus neraca perdagangan yang berlanjut terutama bersumber dari kinerja positif neraca perdagangan nonmigas. Neraca perdagangan nonmigas pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 3,23 miliar dolar AS, seiring dengan tetap kuatnya ekspor nonmigas yang mencapai 21,26 miliar dolar AS .
Kinerja positif ekspor nonmigas tersebut didukung oleh komoditas berbasis sumber daya alam seperti lemak dan minyak hewani/nabati yang melonjak 46,05 persen, serta produk manufaktur seperti nikel dan barang daripadanya yang naik 42,04 persen, mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya, serta alas kaki . Deputi BPS Ateng Hartono mengungkapkan bahwa komoditas lemak dan minyak hewani/nabati menyumbang surplus hingga 3,10 miliar dolar AS .
Sektor industri pengolahan menjadi motor utama penggerak ekspor dengan kontribusi mencapai 6,54 persen dari total pertumbuhan ekspor, didorong oleh peningkatan ekspor minyak kelapa sawit, nikel, besi baja, semikonduktor, dan komponen kendaraan bermotor .
Berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi kontributor utama ekspor Indonesia dengan pangsa mencapai 43,77 persen dari total ekspor nonmigas .
Tiongkok masih menjadi pasar terbesar dengan nilai ekspor mencapai 5,27 miliar dolar AS, didominasi oleh besi dan baja serta nikel dan barang daripadanya . Menyusul Amerika Serikat dengan nilai ekspor 2,51 miliar dolar AS yang didominasi mesin dan perlengkapan elektronik serta alas kaki, dan India dengan nilai ekspor 1,52 miliar dolar AS yang didominasi bahan bakar mineral .
Sementara itu, neraca perdagangan migas tercatat defisit sebesar 2,27 miliar dolar AS pada Januari 2026. Kondisi ini sejalan dengan penurunan ekspor migas di tengah menurunnya impor migas . Nilai impor migas tercatat sebesar 3,17 miliar dolar AS atau meningkat 27,52 persen secara tahunan .
Secara keseluruhan, nilai impor Indonesia pada Januari 2026 mencapai 21,20 miliar dolar AS, naik 18,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan impor terjadi di seluruh kelompok penggunaan, terutama bahan baku/penolong yang naik 14,67 persen dan barang modal yang meningkat 35,23 persen, mengindikasikan aktivitas produksi yang tetap bergairah di dalam negeri .
Dari sisi negara asal impor, tiga penyumbang terbesar adalah Tiongkok (7,89 miliar dolar AS), Australia (1,07 miliar dolar AS), dan Jepang (0,95 miliar dolar AS) . Hal ini menyebabkan defisit perdagangan terdalam tercatat dengan Tiongkok sebesar 2,47 miliar dolar AS, disusul Australia 0,96 miliar dolar AS, dan Prancis 0,47 miliar dolar AS .
Sementara itu, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia dengan nilai 1,55 miliar dolar AS, diikuti India 1,07 miliar dolar AS, dan Filipina 0,69 miliar dolar AS .
Dengan cadangan devisa yang tetap memadai di level 154,6 miliar dolar AS atau setara 6,3 bulan impor, BI optimistis ketahanan eksternal Indonesia akan tetap terjaga didukung aliran modal asing dan sinergi kebijakan yang berkelanjutan
(ant/*)