Advertisement

Advertisementspot_img

Top 7 News Minggu Ini

― Iklan―

spot_img

Popular News

HomeDaerahDIY YogyakartaBRIN Ingatkan Potensi Kembalinya Wabah Pes di Indonesia: "Silent Period, Bukan Berarti...

BRIN Ingatkan Potensi Kembalinya Wabah Pes di Indonesia: “Silent Period, Bukan Berarti Hilang”

Jakarta, ZonaOke.Id – Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengingatkan masyarakat Indonesia akan potensi kembalinya wabah pes. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir tidak ditemukan kasus pada manusia, para peneliti menyebut adanya fenomena silent period (masa sunyi), yaitu ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama namun masih berpotensi muncul kembali.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, menjelaskan bahwa pes diduga masih berada dalam fase tersebut. Hal ini didukung oleh temuan bahwa bakteri penyebab serta vektor dan reservoirnya (pinjal dan tikus) masih ditemukan di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.

“Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali. Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele,” kata Ristiyanto dalam keterangan di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Menurut Ristiyanto, perubahan lingkungan menjadi faktor penting yang meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit. Deforestasi, alih fungsi lahan, dan pertumbuhan penduduk telah mengganggu keseimbangan ekosistem, sehingga habitat tikus semakin mendekat ke permukiman manusia.

“Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri Yersinia pestis,” ujar Ristiyanto.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN lainnya, Muhammad Choirul Hidajat, menyebutkan bahwa perubahan iklim turut berkontribusi terhadap peningkatan populasi pinjal sebagai vektor penyakit.

“Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta meningkatnya interaksi dengan manusia, menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai. Ini bukan alarm yang perlu ditakuti, tapi diantisipasi,” ucap Choirul.

Choirul menegaskan bahwa tikus sebagai reservoir utama bakteri Yersinia pestis masih banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Meskipun tidak ada kasus pes pada manusia selama lebih dari satu dekade, beberapa daerah di Pulau Jawa masih dikategorikan sebagai wilayah fokus, antara lain Kabupaten Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung.

“Ketiadaan kasus bukan berarti penyakit telah hilang sepenuhnya. Bakteri dan vektornya masih ada di alam. Kita tidak boleh lengah,” tegas Choirul.

Sebagai langkah antisipasi, BRIN merekomendasikan penguatan sistem surveilans terpadu yang mencakup pemantauan pada manusia, hewan, dan vektor penyakit. Selain itu, peningkatan sanitasi lingkungan dan pemantauan wilayah bekas endemis juga dinilai penting untuk mencegah potensi wabah.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, dalam keterangan terpisah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. “Kami tidak ingin menimbulkan kepanikan. Yang kami inginkan adalah kesadaran. Pemerintah daerah di wilayah fokus harus memperkuat pemantauan, dan masyarakat harus menjaga kebersihan lingkungan,” ujar Handoko.

(*BRIN/ *ANT)

Berita Terkait

Iklan

DiJual : Rumah di mountain view residen blok c1 no 9 paniki bawah kota manado - Asri, lokasi strategis dekat bandara, dekat pusat bisnis -Nego langsung dengan pemilik - tanpa perantara - SHM - Luas bangunan 125m2, luas tanah 330 m2, 4 kamar, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, air perumahan, listrik 5500 watt, carport, security 24/7 - yang berminat bisa menghubungi: wa: 0811439028